Kamis, 15 Juli 2010 | 07:44 WIB KOMPAS/Mukhamad Kurniawan Sembako JAKARTA, KOMPAS.com — Harga komoditas pertanian belakangan ini meningkat. Siapa yang menikmati keuntungan dari semua ini? Apakah keuntungan ini diraih 25 juta petani atau total sekitar 42 juta angkatan kerja yang ada di sektor pertanian? Atau keuntungan lebih banyak diperoleh para pedagang?
Ketua Umum Asosiasi Perberasan Surakarta Tulus Budiono mengatakan, harga beras di tingkat pedagang yang juga pemilik penggilingan gabah sudah Rp 5.500-Rp 6.000 per kilogram. Adapun harga gabah kering panen (GKP) dari petani Rp 3.100 per kg dan harga gabah kering giling (GKG) hampir Rp 4.000. Biasanya, harga dari petani untuk GKP Rp 2.400-Rp 2.500 per kg dan GKG Rp 3.100 per kg. Soka, petani dari Gebang Kulon, Cirebon, Jawa Barat, menambahkan, harga GKG mencapai Rp 3.500 per kg. Harga ini di atas harga pembelian pemerintah yang hanya Rp 3.300. Menurut Soka, meski harga naik, bukan berarti petani seperti dirinya untung. ”Butuh sepekan untuk mengeringkan gabah karena cuaca mendung terus. Kami harus membayar lebih banyak tenaga untuk menjemur. Apalagi, musim ini hasil panen berkurang karena serangan wereng,” kata Soka, yang biasanya bisa panen 2,5 ton kini hanya 2 ton di 0,5 hektar lahannya. Dari penjelasan Budiono dan Soka, jelas pemilik penggilingan yang juga merangkap pedagang beras yang meraup untung. ”Saya hanya ambil untung Rp 100 per kg. Kalau saya beli Rp 5.900 saya jual lagi Rp 6.000. Ini yang paling mahal saya jual Rp 7.400 per kg. Saya beli dari selepan (tempat penggilingan gabah),” kata Ong Siauw Jiang, pemilik toko grosir beras UD Sinar Terang, Selasa (13/7/2010) di Solo. Menurut Budiono, pedagang pun lebih memilih menjual berasnya ke pasar bebas ketimbang menjual ke Bulog mengingat harga beras di pasaran Rp 5.300 per kg, sedangkan harga jual ke Bulog hanya Rp 5.060 per kg. Pasokan beras yang berkurang karena musim kemarau basah ini membuat kenaikan harga sangat terasa dalam dua tiga pekan ini. Hal serupa juga dialami pedagang sayuran. Harga sayuran juga naik sejak beberapa waktu lalu. Pedagang sayuran di Solo, Ny Agung, mengatakan, kenaikan harga sayur-mayur berasal dari pedagang pemasok karena tidak membeli langsung dari petani. Rantai distribusi Di Kota Bandung, Jawa Barat, kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok baik di pasar tradisional maupun pasar modern sudah terjadi mulai di tingkat petani karena berkurangnya hasil panen. Akan tetapi, harga komoditas tersebut semakin melonjak sejak masuk rantai distribusi, yakni tengkulak dan pedagang grosir. Dari penelusuran di sentra pertanian Lembang dan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Selasa, pasokan ke Bandung memang berkurang karena minimnya hasil panenan. Kondisi ini terjadi karena sebagian lahan sayur gagal panen akibat curah hujan yang tetap tinggi hingga pertengahan tahun. ”Curah hujan yang tinggi menyebabkan produksi cabai tidak optimal. Selain itu, adanya serangan hama juga berpengaruh terhadap produksi,” ujar Nuryatna (37), petani sayur di Kampung Ciburial, Desa Alam Endah, Kecamatan Ciwidey. Menurut dia, dua bulan terakhir, produksi cabai di Ciwidey memang menurun. Kebun cabai milik Nuryatna, misalnya, pada kondisi normal mampu menghasilkan cabai merah keriting berkisar 10 ton per hektar. Namun, akibat cuaca yang tidak menentu, panenannya turun menjadi 5 ton per hektar. Petani cabai lainnya, Dadang Hernawan (65), mengaku hanya mampu memanen cabai merah sebanyak dua ton dari setengah hektar lahannya. Penurunan produksi serupa juga terjadi pada komoditas lain, seperti kentang, bawang putih, tomat, dan produk hortikultura lainnya. Dengan penurunan produksi, harga cabai di tingkat petani memang naik. Jika pada awal Juni petani menjual cabai merah keriting ke tengkulak sekitar Rp 20.000 per kg, kini telah melonjak hingga Rp 30.000 per kg. Menurut Ketua Divisi Pemasaran Asosiasi Agrobisnis Cabai Indonesia Asep Halim, faktor cuaca menyebabkan kondisi udara menjadi lembab dan menimbulkan jamur pada tanaman cabai. Selain itu, bunga cabai sebagai bakal buah rontok akibat diguyur hujan sehingga hasil produksi turun signifikan. Namun, Asep menilai kenaikan harga bukan berarti mendatangkan untung besar bagi petani sebab produktivitas lahan dan biaya produksi petani juga menurun. Lonjakan harga juga terjadi di pasar modern. Sekretaris Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia Jabar Hendri Hendarta mengatakan, kenaikan harga terjadi secara bertahap 20-30 persen sejak awal Juni. Harga cabai merah keriting, misalnya, melonjak dari Rp 50.000 per kg menjadi Rp 56.500 per kg. ”Permainan harga lebih mungkin di tingkat distribusi, khususnya grosir atau tengkulak. Mereka yang kemudian menaikkan harga sebagai antisipasi kenaikan TDL. Sementara petani dan pedagang di pasar tradisional relatif tak banyak menikmati,” tutur pengamat ekonomi sosial di Universitas Pasundan, Bandung, Acuviarta Kartabi. Kondisi ini juga terlihat untuk komoditas lain. Daging ayam broiler yang biasa dijual Rp 23.000 per kg kini melonjak menjadi Rp 29.000 per kg, sementara harga telur ayam yang normalnya Rp 11.500-Rp 12.000 per kg kini menjadi Rp 14.000 per kg. ”Dari distributor, harganya sudah tinggi. Ayam broiler, misalnya, sudah Rp 27.000 per kg, sedangkan telur ayam Rp 13.000. Otomatis kami juga harus menaikkan harga,” ujar Endang Hasan (54), pedagang telur dan daging ayam di Pasar Kosambi, Bandung. Kenaikan harga pangan ini mencekik kehidupan warga miskin. Supadi, pengemudi becak dari Kapetakan, Kabupaten Cirebon, mewakili kelompok ini. Supadi mengaku kesulitan mengatasi kenaikan harga bahan pangan. Pendapatannya yang kadang hanya Rp 15.000 per hari membuatnya harus menghemat biaya makan. Dengan uang tersebut, ia hanya bisa membeli beras satu kilogram dan lauk seadanya tanpa sayur. ”Terpaksa makan sehari dua kali atau hanya nasi dengan kerupuk dan ikan asin,” kata Supadi.(ARA/REK/RWN/EKI/MDN/ETA/ BEE/NIK/ACI/SIR/NIT/GRE) |