Butet Kartaredjasa (aktor) :

Awalnya saya termasuk "forex phobia". Dengar ajakan masuk ke forex langsung: No!!! Tidak!!! Soalnya, sebelumnya saya pernah mencicipi bagaimana pahitnya terjerumus dalam bisnis index hangseng. Saya mengalami kerugian yang suuaangaaaat besar. Besar sekali duit hilang di situ. Saya sudah bonyok-bonyok, dan sudah berikrar tak akan lagi bersinggungan dengan index hangseng atau sejenisnya, termasuk "binatang" forex itu.

Tapi, belakangan hari, setelah saya menjenguk bagaimana bisnis ini dijalankan melalui ‘kelas berbagi’ selama 4 hari, saya jadi ngeh. Ternyata saya tidak perlu takut. Malah saya melihat peluang bahwa seseorang bisa menyelamatkan kehidupan ekonominya dari trading di forex. Apalagi, di era digital sekarang ini, prospek bisnis online...  baca selengkapnya

baca testimonial lainnya

Overview

Industri berjangka di Indonesia sudah semakin berkembang sesuai dengan jamannya. Dukungan dari pemerintahpun semakin jelas dalam bentuk peraturan maupun sarana penjamin bagi keamanan nasabah. Pengembangan dari instrumen investasipun semakin menunjukkan perbaikan untuk kepentingan dan kemudahan bagi para pelakunya. Dalam hal ini yang dimaksud pelaku adalah perusahaan yang menjalankan kegiatan bisnisnya yang berfungsi sebagai fasilitator ataupun pelaku dalam hal ini adalah nasabahnya atau pengguna dari bisnis yang disediakan oleh perusahaan pialang...

baca selengkapnya


  
  


AFFILIATES

Jikustik
HD Capital
Shooter Billiard and Lounge
Harumdana Berjangka
Harumdana Berjangka

 

 

Headline News: Nasabah Tidak Puas dengan Proses Mediasi dari PT Asia Kapitalindo
Bank Capital Buka-bukaan Soal Dana Misterius Grup Bakrie
Kamis, 15/07/2010 08:45 WIB

Herdaru Purnomo - detikFinance


Foto: Reuters
Jakarta - Dana misterius milik Grup Bakrie di Bank Capital yang mencapai Rp 6,884 triliun sempat menghebohkan. Mengapa sampai ada 'selisih' dana yang sedemikian besar?

Dirut Bank Capital Nico Mardiansyah pun akhirnya angkat bicara. Menurut Nico, yang terjadi sebenarnya hanyalah perbedaan data dan pihaknya sudah melakukan pengecekan.

Baik Bank Capital maupun PT Bakrie and Brothers pun telah melakukan klarifikasi atas dana misterius tersebut kepada Bursa Efek Indonesia.

"Angka deposito di BACA adalah hasil dari catatan laporan keuangan perusahaan-perusahaan portofolio kami yang dikonsolidasikan dalam laporan keuangan BNBR," ujar Presiden Direktur/CEO PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), Bobby Gafur Umar dalam penjelasannya yang dikutip detikFinance, Kamis (15/7/2010).

"Apa yang terjadi saat ini bahwa memang masalah ada perbedaan data dan kita sudah melakukan pengecekan," ujar Nico  yang dihubungi terpisah oleh detikFinance.

Seperti diketahui, berdasarkan laporan keuangan triwulan I-2010 seluruh emiten grup Bakrie alias Bakrie 7 tercatat memiliki deposito berjangka di BACA sebesar Rp 9,055 triliun.

Dengan posisi deposito berjangka sebesar Rp 9,055 triliun, maka seharusnya dalam laporan keuangan triwulan I-2010 BACA juga tertera setidaknya ada angka deposito berjangka sebesar Rp 9,055 triliun. Belum kalau ada nasabah lainnya, jumlahnya seharusnya lebih besar dari Rp 9,055 triliun.

Namun anehnya, BACA hanya mencatat posisi deposito berjangka rupiah sebesar Rp 2,171 triliun dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) BACA sebesar Rp 2,694 triliun. Kalau memang demikian adanya, berarti ada selisih yang "hilang" sebesar Rp 6,884 triliun.

Nico menjelaskan, apa yang dicatatkan oleh Bank Capital untuk dana grup Bakrie sudah benar. Awalnya, pihaknya langsung mengecek setelah berita soal dana misterius grup Bakrie itu muncul. Bank Capital semula tidak mengetahui bagaimana bisa terjadi perbedaan pencatatan dengan milik grup Bakrie.

"Saya baca di media, Kita jelasin di cek dulu, setelah di cek data kita ternyata laporan kita benar. Langsung lah pada saat ini kita konfirmasi nasabah perbedaan angka ini, maka nasabah langsung melakukan penelaaahan," ungkapnya.

Pihak Bakrie Grup juga sudah melakukan penelaahan, sementara BEI juga sudah mempelajari dokumen yang disampaikan Bank Capital.

"Laporan keuangan kita per Maret 2010 itu benar adanya dan sudah diteruskan ke nasabah (Bakrie Group), dan nasabah langsung melakukan penelaahan. Kita juga sudah sampaikan ke BEI," jelaskan Nico yang juga mengaku merasa tidak nyaman dengan adanya perbedaan pencatatan ini.

Ia mengakui Bank Indonesia sempat menanyakan adanya selisih dana yang besar tersebut kepada Bank Capital. 

"BI juga sebagai otoritas moneter mereka menanyakan dan sudah kita jelasin dan kita kan mempunyai dokumen-dokumennya," imbuhnya.

Saat ditanya mengenai apakah dana milik Grup Bakrie mencapai Rp 6 triliun lebih, Nico hanya mengatakan bahwa posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Capital tidak sebesar itu. Namun ia menolak memberikan rincian dana milik Grup Bakrie sesuai dengan ketentuan BI.

"Yang jelas posisi DPK kita tidak sebesar itu. Nah sudah disampaikan mereka, tapi kata mereka ada time different, ini laporan per 31 Maret," jelasnya.

Nico menambahkan, Grup Bakrie sendiri sebenarnya bukan nasabah lama mereka. Grup Bakrie baru menjadi nasabah mereka ketika melakukan rights issue pada tahun 2010 ini.
 
Image
 
executive class
 
executive class
 
Kelas Berbagi adalah sebuah kelas dengan materi pengetahuan tentang dasar – dasar perdagangan di Bursa Berjangka Jakarta. Yang merupakan sebuah peluang bisnis di Indonesia yang masih relative baru , dan masih sangat jarang masyarakat mendapatkan informasi yang tepat dan lebih detail mengenai mekanisme perdagangan dan peluangnya. Kelas berbagi juga hadir dalam 'Kelas Berbagi Online' dimana kelas dilaksanakan secara online, sehingga tidak membatasi bagi mayarakat dimanapun dan kapanmun untuk mengikuti kelas beragi, sehingga masyarakay yg memiliki mobilitas tinggi atau berada jauh dari kantor Asia Berbagi, namun ingin belajar tetap dapat mengikuti kelas tanpa terbatas oleh adanya jarak dan waktu..
 
 

Market News

Perbanas: Cegah Nasabah Menabung Dolar Terkait Redenominasi
16 August 2010 13:00
Sabtu, 14 Agustus 2010 22:12 WIB | Ekonomi & Bisnis | Moneter | Dibaca 1104 kaliManado (ANTARA News) - Ketua Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional Sulawesi Utara, Fery Keintjem, mengatakan pemerintah perlu meningkatkan batas penjaminan dana nasabah di bank sebagai salah satu upaya mencegah masyarakat menabung dolar sebagai dampak redenominasi rupiah. "Rencana redenominasi rupiah oleh Bank Indonesia membuat nasabah mulai melirik tabungan dalam bentuk dolar," kata Fery di Manado, Sabtu.

IB PROGRAM
Asia Berbagi hadir pertama kali di Yogya sebagai sebuah team kecil yang memfasilitasi sarana bagi mereka yang mempunyai mimpi besar dengan target memiliki kebebasan waktu dan finansial untuk keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dengan mengusung program IB sebagai langkah awal dari program kerja dari tim Asia Berbagi, merupakan sebuah kebahagiaan untuk berbagi program ini kepada Anda semua, demi untuk mencapai mimpi – mimpi besar kita semua, dan untuk mencapai kebebasan financial dengan hati yang damai.
Introduction Broker (IB) adalah orang yang berperan menyampaikan pesan program kerja dari Asia Berbagi dan  menjadi  partner  bagi Asia Berbagi dalam pengembangan  sebuah program edukasi, yang dikemas dalam bentuk Kelas Berbagi dan Workshop Berbagi.
Untuk meraih mimpi besar tersebut,  Asia Berbagi memiliki sarana pendukung  kerja untuk memudahkan kerja IB  berupa IB Media dan Program Asia Berbagi.

baca selengkapnya


 
Disclaimer | Contact | Sitemap

ASIABERBAGI

Indonesia 2008 © Copyright Asiaberbagi.com
email : This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Phone : (022) 9392 6777